MEMETIK HIKMAH BUDAYA MUDIK
Setiap pergerakan dalam kehidupan dapat dipastikan terdapat hikmah dibaliknya sehingga tak perlu mudah mengeluh. Pastinya, untuk mengungkap hikmah _apalagi memaknainya_ dibutuhkan refleksi mendalam terhadap obyek yang dituju sebab tidak semuanya juga dapat memetik hikmahnya dengan baik, alih-alih menjaga hikmah itu sendiri. Akibatnya, setiap pergerakan hidup dianggapnya seperti biasa-biasa saja sebagaimana sebelumnya juga terjadi. Refleksi mendalam ini biasanya dalam al-Qur’an, kita mengenal teks pendek “afala ta’qilun” (apakah kamu tidak berakal) atau “afa tatafakkarun” (apakah kamu tidak berfikir) untuk mengingatkan agar memikirkan apa yang dialami sehari-hari, walau terkadang dianggap remeh temeh.
Salah satu pergerakan dalam hidup itu, khususnya di Indonesia jelang akhir Ramadhan dan memasuki perayaan Idul Fitri, adalah tradisi mudik atau tradisi “toron” dalam masyarakat Madura. Tradisi tahunan ini secara historis telah ada cukup lama, bahkan dimasa-masa kolonial tradisi mudik digambarkan sebagai aktifitas perantau pulang ke rumah asalnya untuk bertemu dengan kerabat setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun mencari ekonomi. Namun, dalam perkembangannya, tradisi mudik mengalami penyempitan makna, terkhusus makna tradisi mudik adalah pulang kampung jelang hari raya Idul Fitri.
Fenomena mudik tahunan setiap hari raya Idul Fitri ini selalu menarik sebab melibatkan cukup banyak orang pemudik; mulai pemudik melewati lintasan propinsi, kabupaten/kota dalam satu pulau hingga tidak sedikit pemudik lintas pulau. Karenanya, mudik tahunan ini bukan saja menjadi hajat tahunan bagi para pemudik, tapi juga hajat tahunan pemerintah untuk memberikan pelayanan terbaik kaitannya dengan kenyamanan dan keamanan pemudik di jalan. Di samping itu, tidak sedikit pula, kita menemukan layanan mudik gratis yang diadakan oleh ormas Islam, seperti NU, dalam rangka ikut berkontribusi memberikan kemudahan bagi pemudik, sekaligus harus diakui manfaatnya ikut mengurai terjadinya penumpukan pemudik di jalan yang sering menjadi penyebab kemacetan.
Untuk itu, rutinitas mudik sejatinya memiliki banyak hikmah kaitannya kehidupan kita sebagai manusia. Makanya sangat disayangkan bila hikmahnya hilang tanpa membekas dalam hati apalagi tanpa terpraktikkan dalam kehidupan nyata, padahal perjalanan mudik sangat melelahkan sebab harus menempuh perjalanan panjang berkilo-kilo. Bukan hanya itu, mudik membutuhkan biaya yang tidak sedikit, walau kaitan ini menjadi petanda bahwa keragaman masyarakat secara ekonomis dapat dilihat dari model alat tranfortasi yang menjadi pilihan.
Pergi dan Kembali
Siapapun yang pergi, ia akan kembali ke asalnya. Begitu juga yang hidup, ia akan kembali ke asalnya dengan kematian. Mudik menandakan demikian bahwa yang pergi akan kembali dengan penampakan yang berbeda dengan sebelumnya, bisa jadi juga tidak ada perbedaan. Mereka yang pergi, lantas tidak ada hasrat untuk kembali _walau sejenak_ niscaya akan merasakan “kurang sempurna” sebab mereka melupakan asal usulnya.
Capek, letih dan sejenisnya sudah pasti dialami oleh para pemudik. Tapi, karena hasrat kuat ingin kembali sejenak semuanya menjadi kebahagiaan. Untuk itu, setidaknya ada dua hikmah dapat dipetik dari tradisi mudik tahunan ini sehingga kualitas kebahagian itu semakin bermakna. Pertama, jadikan mudik sebagai momentum teguhkan eksistensi diri. Maksudnya mudik telah mengajarkan bahwa kita sebelumnya, ketika lahir dan tumbuh, dalam kondisi tidak memiliki apa-apa sehingga banyak pihak terlibat mengawal dan mengantarkan kita menjadi seperti ini.
Ingatan ini menjadi penting, agar ketika mudik dan sampai di tempat tujuan, kita memiliki niat terbaik untuk menyambung “roso kedirian” yang lama ditinggal. Karenanya, upaya pamer kekayaan atau bersombong diri kurang elok dilakukan di tengah masyarakat. Sebaliknya, lebih baik jadikan momentum mudik sebagai sarana menguatkan silaturrahim dengan kerabat dan masyarakat di satu sisi, dan jika memang ada kekayaan lebih, berbagilah dengan yang lain di sisi yang berbeda.
Kesadaran tentang eksistensi bahwa keberadaan kita sejak lahir dan tumbuh melibatkan banyak pihak sehingga tidak boleh pamer dan sombong mengingatkan pada peribahasa jawa “Nyuntak banyu ing marang” (memamerkan sesuatu yang sia-sia) atau peribahasa Madura: “Dhu’ Nondhuk Cek Kocek” (menundukkan tubuh seperti ulekan cobek) untuk mengambarkan agar tidak ada perasaan lebih unggul dengan yang lain.
Kedua, mudik membutuhkan biaya. Karena tidak ada biaya sebagai ongkos mudik, tidak sedikit orang harus bersedih tidak bisa sungkem orang tua dan kerabat dengan bermudik. Ini berarti, apapun kemuliaan yang kita inginkan, tanpa ada kesungguhan untuk mewujudkan tetap saja kemuliaan itu akan menjadi angan-angan belaka. Tekad bermudik tidak datang tiba-tiba, melainkan dengan perencaannya yang matang dalam setahun, termasuk menyiapkan perbekalan dalam perjalanan.
Begitu juga mudik hakiki, ketika kita kembali secara hakiki ke hadirat Allah SWT dengan kematian. Kematian datang secara tiba-tiba, dan dalam kondisi seperti ini kita tidak bisa menolak untuk kembali mengikuti suratan takdirNya. Dengan begitu, merugilah mereka yang tidak merencanakan dan mengeksekusi semua kegiatan keseharian menuju perwujudan amal soleh. Bukankah, dalam keyakinan setiap Muslim, harta yang hakiki bukan harta fisik, melahirkan harta rohani, yakni amal sholeh yang berkaitan dengan hubungan dengan Allah SWT dan MaklukNya.
Dua hikmah ini sebagai ajakan untuk merenungi bersama agar perjalanan mudik ini memiliki bijakan etik. Keluhurannya harus dijadikan sebagai kesadaran etik agar bersama-sama menjaga kualitas perjalanan dengan sebaik-baiknya. Baik diperjalanan dengan persiapan yang matang, termasuk berinteraksi dengan yang lain diperjalanan. Jangan pernah berpikir nyaman bermudik, ketika anda belum memberikan kenyamanan kepada yang lain juga di jalan, seperti mematuhi aturan di jalan.
Akhirnya, rutinitas mudik mari kita jadikan sebagai momentum mengasah kembali kefitrian kita sebagai manusia, baik sebagai makhluk sosial atau mahkluk penghamba. Salah satu esensi kefitrian itu adalah kebahagiaan kita tidak bersifat personal, tapi bersifat universal yang dapat juga dirasakan yang lain. Selamat mudik, dan yang belum bisa mudik semoga tahun depan bisa mudik. Pastinya dengan kesehatan yang lebih prima dan bekal yang melimpah. Selamat Hari Raya Idul Fitri tahun 1446 H.
.........
Gambar dikutip dari:
https://www.wartabromo.com/2018/06/11/sebelum-mudik-lakukan-hal-ini-yuk/
Leave a Comment